Dua belas tahun perjalanan Laneway Festival telah membawa banyak cerita: kemampuannya berekspansi ke lima kota di Australia, lalu New Zealand, Singapura, dan AS, serta kelihaiannya menghadirkan line-up yang terkurasi, menjadikannya salah satu festival musik paling berkarakter saat ini.

K onon, Jerome Borazio dan Danny Rogers, memulai ide awal Laneway Festival ketika memutuskan untuk mempercantik musim panas di Melbourne dengan penampilan musik yang dipadukan dengan latar yang unik. Duo tersebut pun membawa band-band muda saat itu seperti The Presets dan Architecture in Helsinki untuk tampil di St. Jerome’s Bar (sekarang sudah tidak ada). Tidak puas sampai di situ, mereka hendak menutup jalan, membersihkannya dari sampah-sampah yang berserakan, dan menciptakan festival jalanan yang layak, menandakan dimualinya edisi pertama St. Jerome’s Laneway Festival.

Tahun demi tahun berikutnya, Laneway kerap merengkuh berbagai pencapaian. Secara konsisten, festival tersebut mampu mempertahankan kualitas dan reputasinya dengan menampilkan line-up yang relevan. Mereka juga berekspansi ke kota-kota lain di Australia (Sydney, Brisbane, Adelaide, dan Fremantle), lalu ke New Zealand (Auckland), Singapura, hingga ke Detroit, Amerika Serikat. Respon positif dilayangkan oleh berbagai pihak. Seperti pada tahun 2011, Yanis Philippakis, selaku frontman dari Foals, mengungkapkan “the best line-up we’ve been a part of for a very long time!” Kemudian di tahun 2013, Laneway dianugerahi Music Event of the Year oleh Australian Music Awards. Tahun 2014, Laneway bahkan merelokasi venue acara di dua kota di Australia, lantaran dibutuhkannya kapasitas venue yang lebih besar.

Kini, 2018 menjadi kali kedelapan Laneway Festival diselenggarakan di Singapura. Father John Misty, Bonobo, Mac DeMarco, Wolf Alice, Slowdive, The War on Drugs, serta The Internet siap meramaikan, ditemani nama-nama seperti Billie Eilish, Moses Sumney, Sylvan Esso, hingga Loyle Carner. Media Coconuts.sg menulis, “Bless the organizers for trying their darndest to drill the fact that Laneway Festival Singapore is A Festival Where You Discover New Music.” Pujian juga dilantunkan oleh media PULP dari Filipina, “It was a whole different Laneway with arguably the most diverse line-up ever assembled playing in a rain-soaked but nevertheless fun day.

Selain nama-nama di atas, Laneway Festival Singapore juga mengundang sederet line-up dari empat negara di Asia: Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Melalui siaran pers-nya, pihak Laneway mengaku senang untuk dapat mendatangkan beragam musisi yang berbeda-beda genre ini.

“From break-out bands to established entertainers, Laneway Singapore 2018 has them all. Foraging is our speciality and every year, we suss out the artistes to watch, so you don’t have to. We’ve been doing this for eight years (yes, already!) and we hope we get better each time,“ tutur pihak Laneway.

Indonesia sendiri diwakilkan oleh band alternative rock / shoegaze asal Bandung, Heals. Pencapaian mereka ini menyusul Bottlesmoker dan Stars & Rabbit yang telah lebih dulu tampil di dua edisi sebelumnya. Heals akan berbagi panggung dengan alextbh, Amateur Takes Control, MAS1A, Obedient Wives Club, THELIONCITYBOY, The Ransom Collective, dan Tim De Cotta. Bagi Heals sendiri, ini akan menjadi kali kedua bertandang ke negeri Singa setelah sebelumnya sempat tampil di gelaran Rocking The Region, Esplanade.

Mendapat kesempatan tampil di Laneway Festival, Heals mengaku mempersiapkan banyak hal. Kuartet Alyuadi Febryansyah (vokal, gitar), Reza Arinal (vokal latar, gitar), Muhammad Ramdhan (gitar), Octavia Variana (vokal latar, bass) dan Adi Reza (drum) ini telah berlatih setlist yang akan dibawakan, fashion statement, hingga speech di atas panggung. Dari beberapa informasi, diketahui bahwa mereka bahkan rela menunda beberapa agendanya demi persiapan menuju Laneway ini.

Reza Arinal pernah berucap, “kami sedang mengolah beberapa materi dari album debut kami, Spectrum, untuk dapat ditampilkan secara berbeda di atas panggung Laneway nanti.” Komentar itu lalu ditambahkan oleh Alyuadi, “Bagi kami, Laneway Festival adalah salah satu festival terbesar di Asia Tenggara dan Australia. Mereka konsisten, sehingga banyak orang yang mengejar event ini."

Alyuadi juga mengaku kagum dengan line-up dari Laneway Festival. “Mungkin karena pendapatan per-kapita-nya beda yah, jadi mereka bisa mengajukan kontrak eksklusif ke band-band yang relevan di masa sekarang. Lineup memang menjadi daya tarik utama Laneway.”

Di sisi lain, persiapan tentu tidak bisa lepas dari urusan teknis dan birokrasi. Vando, selaku manajer, merasakan betapa matangnya persiapan dari pihak Laneway kala melihat surat atau dokumen yang perlu diisi. “Budaya-nya masih berbeda dengan Indonesia, mereka sangat detail sekali, dan tangkas. Bekerja sama dengan pihak Laneway secara tidak langsung memberikan wawasan dan referensi baru tentang bagaimana menyelenggarakan sebuah festival juga treatment yang tepat untuk band yang tampil.”

Vando juga menambahkan, “Ada banyak poin (dari Laneway) yang semestinya menjadi pelajaran bagi pelaku musik di Indonesia. Dari mulai bagaimana mempresentasikan line-up dengan keren, kualitas SDM yang mumpuni, persiapan yang matang, kesesuaian dengan konsep acara, dan masih banyak lagi sepertinya. Yang pasti, saya melihat kultur festival musik di sana, baik sewaktu Rocking The Region maupun Laneway Festival ini, sudah terbentuk sangat baik. Kami jadi nyaman sekaligus bangga bisa berada di dalamnya.”

Kredit foto: Laneway Festival Singapore

Laneway Festival memiliki visi sederhana namun begitu esensial: menampilkan bermacam musisi, dari nama besar sampai baru, diiringi dengan atmosfer yang unik nan memukau. Mereka seolah tulus ingin meghibur pencinta musik seluruh dunia. Visi tersebut dijalankan dengan konsisten dan sistematis, menghasilkan sekian perestasi yang telah direngkuh oleh Laneway sendiri.

Dengan Bottlesmoker, Stars & Rabbit, dan Heals yang sudah dan akan tampil di Laneway, sebetulnya kesempatan bagi musisi-musisi Indonesia cukup terbuka. “Potensi-nya sangat besar kok. Bahkan kalau tidak hanya melihat dari Laneway, Indonesia dapat semakin ‘dipandang’ di Asia Tenggara. Saya sering mendengar negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura acapkali memerhatikan dan mungkin mencontoh perkembangan musik kita,” sahut Alyuadi.

Barangkali kita memang perlu belajar banyak dari Laneway. Karena apabila benar potensi skena musik Indonesia sedemekian besar, perlu diketahui bagaimana membangun ekosistem kreatif yang mumpuni. Mari berharap, seiring dengan semakin rutinnya musisi Indonesia yang dipanggil ke sana, transfer pengetahuan bisa terus terjadi. Sehingga petualangan pelaku musik kita bisa berkembang ke level yang menjanjikan.

Dwi Lukita

Author Dwi Lukita

More posts by Dwi Lukita

Leave a Reply