Sepengamatan saya, kebanyakan pembuat acara muda di Bandung masih kesulitan memahami teknis logistik panggung musik. Saya pun begitu. Terkadang, perihal routing kabel, penanggulangan feedback atau gaung, sampai polemik suara keluar di monitor masih terasa seperti ‘dunia lain‘. Situasinya mungkin mirip seperti orang sales sewaktu berurusan dengan bagian IT. “Mas, boleh diulang tadi mas ngomong apa?

Umumnya panitia menyerahkan segala urusan logistik pada vendor, yang mana, tidak selalu tahu percis karakter dan kebutuhan tiap penampil (memang bukan kewajiban mereka, bukan?). Akibatnya, seperti yang sering terjadi, kesalahpahaman atau miskomunikasi sangat mudah memancing baik musisi atau audiens untuk berkata, “ah, sound-nya busuk!” Padahal, demi menyajikan pertunjukkan musik yang maksimal, diperlukan sinkronisasi mumpuni antara stage crew acara dan musisi.

Kalau kita coba telaah, ada beberapa faktor yang bisa dituding sebagai penyebabnya. Yang utama tentu kurangnya pendidikan resmi atau komprehensif mengenai bidang tersebut. Sekalinya ada, ya mahal banget. Karena itu, mengambil peran kru musik atau staff logistik jadi terkesan tidak menarik dan tidak jelas proyeksi karirnya seperti apa. Mayoritas orang kemudian memandang profesi itu sebelah mata, seolah mereka ini pesuruh saja. Apalagi jika kita bicara dalam konteks ‘musisi muda’. Mungkin para senior bisa mencari dan membayar kru secara profesional, tetapi apa kabar band-band yang baru merintis, masih berkelana dari satu gig komunitas ke gig komunitas lain, dan harus puas dengan cap ‘thank you’? Bayangkan jadi kru, sudah uangnya tak ada, keren pun tidak dapat. Ngapain?

Saya tidak perlu banyak menjelaskan betapa pentingnya peran seorang (atau sekelompok) kru dalam presentasi musik di atas panggung. Ibarat restoran, seenak apapun makanannya kalau piringnya terbuat dari karton (?) tentu akan mengurangi minat pengunjung. Waktu di Laneway Festival kemarin, saya menyaksikan sendiri bagimana stage crew tampil begitu cekatan, profesional, dan berkelas.

Akhirnya saya berbincang dengan Deni Ramdani (juga dikenal dengan panggilan Deni Kochun) yang aktif di salah satu brand gitar lokal Bandung, dan kini membantu Heals sebagai audio engineer. Beliau bilang begini:

“Kita ga pernah tau siapa yang menonton kita ketika manggung. Bisa jadi di sana ada record label, event organizer, investor, sponsor, siapapun. Banyak band yang materinya enak, tapi karena produksinya kurang oke jadi penampilannya kurang optimal. Dan pastinya kan pihak-pihak itu ga mau tau alasannya dan langsung aja memberi cap jelek. Akhirnya, itu menghambat karir si band yang sebenarnya potensial.”

Deni juga menambahkan, ternyata persoalan produksi ini tidak hanya menimpa yang muda, band-band besar pun kadang masih mengalaminya. Terlebih di Bandung, yang harus diakui sirkulasi kapitalnya tidak selancar di Jakarta, misalnya. Sedih, memang. Ketika kita menuntut regenerasi di industri musik ini, masalah logistik tetap menjadi borok yang menghantui.

Jadi itulah PR kita, bagaimana menghadirkan pendidikan yang komprehensif dan terjangkau kepada peminat profesi stage crew, serta melawan stigma orang-orang yang memandang remeh.

Peserta kelas Sound Engineer oleh Deni Kocun

Nah kebetulan, Deni punya hubungan baik dengan 372 Kopi di daerah Dago. Ia pun mendapat ruang cukup untuk menyalurkan misinya membentuk ekosistem produksi yang baik bagi musisi independen. Langkah awalnya adalah, membuka workshop sederhana yang ditujukan secara spesifik bagi mereka yang berminat di bidang stage crew atau audio engineer. Kelas pertamanya sendiri telah berlangsung 14 Februari lalu. Awal yang cukup manis.

Tidak berhenti di situ, peserta yang hadir di kelas tersebut, meski jumlahnya masih sedikit, bisa langsung mempraktikkan ilmu yang didapat pada gelaran ‘Wah-Wah Vol. 2’ yang diadakan di 372 Kopi, Jumat, 23 Februari mendatang.

Sebagai informasi, pertunjukkan musik Wah-Wah didesain untuk mewadahi musik-musik keras, eksperimental, dan berkarakter. Di edisi pertama, acara ini menampilkan The Trees and The Wild, Rusa Militan, Munthe, dan Heals. Kali ini, giliran Under The Big Bright Yellow Sun, Collapse, Lizzie, dan EIR yang dipilih dan dianggap sesuai mewakilkan tema ‘Sound from Another Dimension’ dengan sub-genre yang berbeda-beda.

Setidaknya, pergerakan ini memunculkan harapan untuk masalah logistik musik ini. Mudah-mudahan pula dapat memantik tumbuhnya pergerakan serupa di lingkaran sosial lain karena kita memang butuh. Anda pasti tidak mau kan, susah-susah bikin band electronica-ambient-gazing-post-punk-whatever yang bejibun efek tapi berakhir dengan keluaran sound sember di atas panggung? Saatnya memukau penonton di level yang baru, dan sebelum bicara imajinasi, mari menengok dulu ke kabel jack sendiri.

Dwi Lukita

Author Dwi Lukita

More posts by Dwi Lukita

Leave a Reply