Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Sejak pertama kali diluncurkan lebih dari sepuluh tahun lalu, Spotify sepertinya masih ‘gemar’ mengundang pro dan kontra. Kali ini, Iksal R. Harizal menuliskan hasil pengamatannya terhadap streaming service asal Swedia tersebut, yang kami anggap cocok merespon narasi ‘Musik Sebagai Pengalaman Personal’ dan Micronotes. Sila disimak!

Indonesia tampaknya merupakan pasar yang menggiurkan bagi para platform audio streaming. Dari mulai iTunes, Langit Musik, Deezer, JOOX dan beberapa nama lain telah menancapkan kehadirannya di Indonesia. Namun ternyata tak semudah itu untuk menggaet para penikmat musik di Indonesia. Pasalnya semua platform tersebut tak sepenuhnya berhasil merebut hati pasar Indonesia.

Sampai kemudian Spotify hadir. Berbeda dengan saudara-saudara tuanya yang lebih dahulu hadir, nasib Spotify ternyata lebih mujur. Memang tak ada laporan dan angka pasti, namun diprediksi lebih dari 100 milyar menit musik telah diputar oleh pemakai Spotify dengan cara streaming.

Serta-merta Spotify tampak seperti sebuah angin segar di industri musik Indonesia. Salah satu personil grup musik shoegaze, HEALS, Alyuadi Febryansyah mengaku sangat antusias dengan kehadiran Spotify. Bahkan ia telah mengikuti platform streaming ini jauh sebelum hadir di Indonesia. “Kehadiran Spotify dulu itu dari impresi awal saya sudah dikasih antusiasme tinggi terhadap datangnya informasi mengenai Spotify. Sekitar tahun 2009 hingga 2010 saat masih belum ada (Spotify) di sini dan bela-belain pake VPN untuk menikmati konten yang mereka sediakan dulu,” ujar Alyuadi.

Tak hanya Alyuadi, solois wanita Heidi Nasution yang menggunakan nama panggung The Girl With The Hair mengatakan Ia sangat terbantu dengan kehadiran Spotify. “Spotify platform terbesar untuk musik aku. Dan sebagai consumer juga paling gampang aksesnya dan nyaman digunakan juga. Apalagi kalo di Spotify itu approach ke audiencenya lebih tinggi menurutku,” tutur wanita yang belum genap berumur 20 tahun ini. Memang tampaknya Spotify memiliki tempat khusus di hati Heidi, pasalnya saat artikel ini ditulis, single berjudul Soon Finland miliknya itu telah diputar 694.436 kali di Spotify. Selain itu Heidi memiliki 24.000 lebih pendengar setiap bulannya. Sebuah angka fantastis bagi penyanyi yang belum memiliki album dan tampil di televisi.

Melihat pendapat dua musisi tersebut memang seperti tak ada yang keliru dengan kehadiran Spotify. Jika dilihat secara kasat mata kondisinya seperti ini: penggemar musik mau membayar untuk mendengarkan musik dan musisi pun semakin bisa dengan mudah meraih pendengar dan mendapat penghasilan dari musik yang semakin luas terdistribusi. Sebuah kondisi yang ideal bukan?

Namun ternyata tak demikian adanya. Dalam buku Pop Kosong Berbunyi Nyaring, Taufiq Rahman menulis dengan tegas bahwa kehadiran Spotify sebuah omong kosong belaka. Ia sampai-sampai mengutip ucapan kasar Joe Biden kepada Donald Trump, “A bunch of malarkey!”

Tak tanggung-tanggung, ia mengatakan bahwa keberhasilan Spotify di Indonesia kian menegaskan kegagalan internet dalam menyelamatkan musik. Pasalnya Spotify dinilai membuat masyarakat enggan merogoh kocek lebih untuk mendengarkan musik. Hal tersebut pula yang membuat penjualan iTunes turun sebesar 14 persen pada 2014 dan tampaknya tren ini terus berlanjut.

International Federation of the Phonographic Industry (IFPI) organisasi yang mewakili kepentingan industri rekaman diseluruh dunia baru-baru ini merilis laporan tahunan industri musik global. Laporan yang dinamai Global Music Report 2018 mencatat, pada tahun 2017, pasar rekaman musik global tumbuh sebesar 8,1%. Ini adalah tahun ketiga berturut-turut pertumbuhan global dan salah satu tingkat pertumbuhan tertinggi sejak IFPI mulai melacak pasar pada tahun 1997. Pendapatan meningkat di sebagian besar pasar dan di delapan dari 10 pasar global teratas.

Pendapatan digital kini mencapai lebih dari setengah (54%) dari pasar rekaman musik global. Pendapatan dari format fisik menurun 5,4%, sedikit lebih tinggi dari tahun sebelumnya (4,4%). Total pendapatan streaming meningkat 41,1% dan, untuk pertama kalinya, menjadi sumber pendapatan terbesar yang artinya tren orang untuk mendownload dan membeli musik turun tajam. IFPI melaporkan pendapatan dari format download turun sebesar 20,5 persen.

Fakta tersebut seolah-olah mendukung pernyataan Taufiq, bahwa kini orang semakin tidak memerlukan lagi alasan kuat untuk membeli dua megabyte data seharga Rp. 5.000 untuk sebuah lagu. Taufiq melanjutkan, buat apa harus melewati prosedur pembelian berbelit-belit dengan kartu debet atau kredit hanya untuk mendapat data yang kemudian menumpuk dan menjadi beban di komputer. Spotify memberi kebebasan dari beban itu. Sampai sepuluh tahun lalu, penikmat musik masih berpikir bahwa membeli CD adalah pilihan rasional, catat Taufiq. Karena naluri manusia untuk mengoleksi dan menimbun masih bisa dipuaskan. Ketika iTunes muncul, CD menjadi tidak relevan karena musik bisa dikumpulkan dalam bentuk file computer dan bisa disimpan di alat pemutar yang mampu menampung beratus giga file. Kini Spotify membunuh dorongan manusia untuk menimbun. Jika semua musik yang pernah diciptakan di bumi bisa ada di ujung jari Anda dengan hanya sedikit usaha dan uang kenapa harus memilikinya?

Catatan tajam Taufiq tersebut didukung oleh Surya Fikri Ashidiq, penabuh drum dari grup surf-rock The Panturas. Ia berpendapat layanan audio streaming seperti Spotify telah mengubah pola mengkonsumsi musik dan membuat orang enggan mengeluarkan uang. “Itu saja yang jadi masalah dari layanan streaming. Bikin orang lebih malas membayar mahal untuk musik. Rilisan fisik mah udah jelas turun lah, dulu penjualan CD di Indonesia satu band bisa puluh ribuan bahkan jutaaan. Sekarang CD sifatnya cuma jadi merchandise dan pelengkap aja. Maksimal seribu copy malah sekarang mah. Padahal itu jadi salah satu cara musisi supaya dapat uang. Ya itu karena pola dan cara orang mendengarkan musik udah berubah,” tutur Surya panjang lebar.

Sementara Alyuadi mengaku Spotify turut berjasa secara radikal mengubah kebiasannya membeli CD. “Dulu sebelum ada Spotify saya hampir setiap minggu pergi ke Aquarius dan toko musik lainnya untuk beli kaset dan CD. Sekarang saya kalo mau akses musik tinggal klik. Tapi ya era akan terus maju, zaman akan terus berkembang.We have to deal with it,” tutur pria yang sempat bermain di Laneway Festival bersama HEALS.

Tak hanya membunuh dorongan manusia untuk mengoleksi musik, Spotify juga dianggap hanya menguntungkan musisi besar yang didukung label besar. Sedangkan musisi-musisi independen dan records label independen merasa selama ini belum mengecap manisnya royalti dari Spotify. Jodi Setiawan pemilik record label Nanaba Records turut bersuara akan hal ini. Ia merasa Spotify belum bisa menjadi sumber pemasukan untuk bisnis independennya tersebut. Selain itu Jodi menganggap Spotify hanya menguntungkan musisi kategori big fish, semacam Dipha Barus, Raisa atau Tulus.

“Sebagi pemasukan signifikan sih engga, gatau yah kalau artis besar mungkin udah bisa jadi pemasukan, tapi kalau kita (Nanaba Records) sih belum, hanya untuk mempermudah pendengar saja kalau mau akses lagunya,” tutur Jodi.

Sementara bagi Surya pendapatan dari Spotify bukan sesuatu yang dapat diharapkan bahkan kasat mata. “Pembagian keuntungan antara perusahaan streaming dan musisi jauh banget porsi nya. Nggak worth it. Malah saya pikir untuk band baru kayak saya, pendapatan dari streaming musik tuh masih ghaib,” tutur Uya yang juga baru menelurkan EP bersama band lainnya, Soft Blood.

Tak berlebihan memang apa yang diutarakan Surya. Pada November 2012, Damon Krukowski drummer dari Galaxie 500 menuliskan keresahannya. Tulisan kontroversinya yang berjudul “Making Cents” tersebut dimuat Pitchfork. Krukowski mengatakan awalnya ia cukup senang bahwa lagunya banyak diputar di layanan streaming. Namun kemudian ia merasa bahwa Spotify dan Pandora begitu kikir terhadap musisi independen. Untuk single Tugboat yang telah diputar 5.960 kali saat itu, Galaxie 500 hanya menerima $1.05 alias 35 sen untuk masing-masing individu (Krukowski, Dean Wareham dan Naomi Yang). Pandora lebih buruk, meski diputar lebih banyak yakni 7.800 kali, Galaxie 500 hanya mengantongi $21 atau 7 sen masing-masing personil. Merasa kecewa Krukowski bahkan menulis bahwa sekarang ini industri musik telah bergerak dari penipuan pribadi ke penipuan yang lebih sistemik.

Di Indonesia, grup musik high-octane rock Seringai mengalami nasib tak jauh berbeda. Dalam vlog resmi mereka edisi kedua belas, Sammy, Ricky Siahaan dan Eddy Khemod menunjukan pendapatan digital resmi mereka. Meski tak terlalu jelas diperlihatkan pendapatan mereka bersumber dari mana dan materi lagu yang mana, di dalam secarik kertas terpampang Seringai hanya mendapat 163 rupiah saja. Tentu jumlah tersebut masih harus dibagi untuk masing-masing personil. SIlakan Anda hitung sendiri. Bahkan total pendapatan digital mereka tak mampu menebus satu potong burger Lawless.

Melihat beberapa kasus tersebut dapat disimpulkan Spotify bukan tambang emas bagi musisi independen. Isu-isu di atas hanya sebagian persoalan dari munculnya platform audio streaming semacam Spotify. Sedangkan segregasi antara penikmat musik dan pencinta musik, jaminan keamanan karya apabila perusahaan streaming gulung tikar juga logaritma-logaritma yang merugikan musisi adalah persoalan lain yang tak kalah penting dan memusingkan.

Di balik jargon-jargon dan niat baik Spotify memajukan musisi independen ternyata menyimpan potret buram kenyataan. Bagi musisi kategori big fish, Spotify merupakan ceruk emas. Namun bagi musisi-musisi kecil tentu Spotify tak ubahnya injury time dalam pertandingan sepak bola saat kedudukan sudah 8-0.

Kalian tinggal pilih sebutannya, asa penunda kekalahan atau pintu keajaiban?

Daftar Pustaka:
Taufiq Rahman, 2017. Pop Kosong Berbunyi Nyaring. Jakarta: Elevation Books
http://www.ifpi.org/news/IFPI-GLOBAL-MUSIC-REPORT-2018
https://pitchfork.com/features/article/8993-the-cloud/

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Microgram Entertainment

Author Microgram Entertainment

More posts by Microgram Entertainment

Leave a Reply