Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Setiap dari kita umumnya punya lagu-lagu yang tetap spesial bahkan setelah didengarkan beberapa kali. Ini bukan tentang progresi chord yang rumit, kualitas vokal emas, atau lirik jenius. Terkadang, ada saja lagu yang benar-benar bicara pada kita, berhasil mengoneksikan kita ke ruang ceritanya, terlepas lagu itu sesederhana atau sekompleks apapun.

Sewaktu SMA, saya senyam-senyum sendiri ketika pertama kali mendengarkan Anyone Else But You di film Juno. Bagian “Up up down down left right left right B A start / just because we use cheats doesn’t mean we’re not smart” kok menggelitik sekali ya? Seolah-olah The Moldy Peaches bisa membaca pikiran, dan sengaja menulis lagu yang mewakili isi kepala saya kala itu.

Musik, selayaknya bidang kreatif lain, pada dasarnya adalah kumpulan wacana. Selalu ada pesan yang ingin disampaikan kreator lewat beragam simbol; dari pemberontakan dan semangat zaman, atau kisah kasmaran dan perselingkuhan. Di sisi lain, kepribadian manusia dibentuk akibat serangkaian faktor; pengalaman, pengetahuan, norma, hingga lingkungan. Maka ketika ada pesan yang menyentuh, bahkan memengaruhi lapis-lapis kepribadian kita, hasilnya sungguh istimewa: sebuah pengalaman personal.

Dosen studi media saya semasa kuliah pernah berkata bahwa kalau ada dua orang yang selera musiknya jauh berbeda, mereka pasti bukan teman dekat, kalau iya pun paling cuma kedok. Sebegitu yakinnya ia akan wacana yang kita telan dari musik, bisa sangat berpengaruh pada kepribadian sampai cara bersosialisasi.

Kilas balik ke sekitar sepuluh tahun lalu, masa di mana sistem publikasi industri musik Indonesia masih didominasi oleh metode broadcasting. Musik adalah sesuatu yang diproduksi secara massal, dipadatkan dalam bentuk CD atau kaset, serta disiarkan melalui TV atau Radio. Dari segi bisnis, nilai musik sebagai komoditas bisa diukur dengan cukup baik.

Referensi masyarakat pun umumnya bersifat seragam. Cara kita mengonsumsi dan menilai musik, masih mudah digolongkan berdasarkan kelas sosial-ekonomi, wawasan, dan tentunya seberapa luas akses terhadap media. Sehingga, ada batas jelas antara musik mainstream, musik indie, musik buat orang-orang keren, atau musik kampungan.

Karena itu, ketika kita punya satu-dua lagu personal yang dianggap underrated, lalu berkenalan dengan orang yang menyukainya juga, kebahagiaan kita menjadi dua kali lipat (tiga sampai empat kali kalau dia adalah orang yang kamu taksir, hehe). Mengetahui lagu-lagu kita ternyata sama berpengaruhnya di orang lain tentunya menyenangkan. Tidak heran bila pertanyaan “lu suka musik apa sih?” acapkali jadi gacoan pada pertemuan pertama.

Mari kita membaca ekosistem musik zaman sekarang.

Perkembangan teknologi telah mempersingkat proses produksi, distribusi, hingga konsumsi musik. Terlebih di era streaming service, audiens bisa mendengarkan musik di mana saja, kapan saja, sesuai dengan selera dan kurasi masing-masing. Akses jadi begitu mudah. Band-band baru terus bermunculan dan pendengar jadi lebih banyak menemukan ketimbang mendengarkan.

Apabila dulu komunitas independen punya sikap resistensi terhadap acara musik di media massa, sekarang, konten ‘busuk’ itu tidak akan datang padamu. Lebih hebatnya lagi, ‘mereka’ yang memilihkan lagu-lagu kesukaanmu. Jadi apakah perlawanan itu masih relevan?

Derajat musik terdekonstruksi sebagai data, sama seperti teks, video, dan konten digital lainnya. Dengan gesit, serangkaian algoritma dunia maya melayani kita, mengumpulkan kita dalam kelompok-kelompok kecil yang dianggap ‘sesuai’ sekaligus terasing. Ingin mengetahui preferensi musik seseorang? Semuanya terpampang di linimasa media sosialmu. Berniat mencari tahu di mana band favoritmu manggung? Gampang, tengok saja Instagramnya. Toko musik lalu berguguran, media cetak melesu, nilai komoditas absurd (gratis itu seksi!), dan kita ramai-ramai mengidap short attention span – ketika konten yang muncul tidak terasa menarik dalam waktu kurang dari dua menit… skip!

Millennials sudah jauh meninggalkan era di mana Don’t Look Back in Anger-nya Oasis di-karaoke-kan oleh ibu-bapak di bar sampai pengamen jalanan. Jumlah orang pedekate dengan membuatkan mixtape semakin berkurang. Selera musik sudah tidak bisa semudah itu diterka. Setiap orang punya preferensinya sendiri.

Fenomena ini sudah direspon oleh Daniel Ek, CEO Spotify yang kini menjadi layanan streaming terbesar di dunia. Di tahun 2014, ia berkata begini pada The New Yorker:

“We’re not in the music space — we’re in the moment space.”

Dengan kata lain, beliau beranggapan bahwa cara mengapresiasi musik sudah berubah. Manusia sekarang cenderung mendengarkan musik karena momen; di jalan ketika macet, sedang bekerja / belajar, sebelum tidur, bersama orang terdekat, dan kepingan momen lainnya. Ini menjelaskan fitur playlist yang menjadi unggulan Spotify.

Jadi kalau dulu ada batas jelas antara Kenny G dan musik-musik jazz latar coffeeshop lainnya, sekarang semuanya makin kabur. Teman saya mendengarkan How To Be A Werewolf-nya Mogwai sambil berlari sore, bukan di kamar dengan khusyuk.

Lalu apakah musik masih bisa jadi pengalaman personal? Membaca berita di masa depan sepertinya makin ‘suram’ saja. Google sedang mengembangkan jaringan neural untuk menciptakan musik popular. Musisi tidak bisa kabur dari cerita Terminator, layaknya tulisan yang dimuat di media Noisey. Tidak usah jauh-jauh deh, ekonomi kreatif Indonesia juga nampaknya belum memberikan perhatian khusus untuk musik. Ya wajar sih.

Jujur, justru setelah (seakan) memegang kontrol terhadap musik yang didengarkan, saya pun malah lebih kesulitan menemukan musik yang memberikan pengalaman personal. Mengapa? Mungkin karena saya juga termabukkan derasnya informasi. Mungkin saya juga mengidap short attention span. Mungkin, saya juga jadi selalu haus akan pengalaman yang lebih dari ‘sekadar’ musik.

Tapi itu kemudian membuat saya berpikir. Jangan-jangan ketika teknologi mengubah banyak hal, musik memang tidak bisa lagi dianggap sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Musik selalu hadir bersama konteks, cerita, dan latar belakang. Semua itu dulu dikemas dalam satu paket berupa artwork, lirik, atau merchandise dalam CD/Kaset yang kita beli. Maka bilamana era medium padat untuk musik telah berakhir, dan konten dipandang sebagai data, sudah waktunya musik dipresentasikan lewat medium lain, bentuk lain, bahkan disiplin kreatif lain. Gagasan ini seharusnya dapat membuka banyak kemungkinan di masa depan, termasuk bagaimana membentuk ide tentang pengalaman personal yang baru.

Pemikiran tentang musik sebagai pengalaman personal membawa saya ke ranah yang lebih jauh, tentang bagaimana industri musik berjalan.

Romantisme kalimat “musik adalah bahasa universal” sudah usai. Kita perlahan memahami bahwa semua ini adalah konstruksi sosial, dan akan terus begitu seiring bergulirnya zaman. Mengutip perkataan Py dari Thailand: “Music is never for everyone. It’s only for everyone who cares.

Saya sempat membaca penelitian berjudul The Mediatization of Music as the Emergence and Transformation of Institutions: A Synthesis karya Benjamin Krämer dari Jerman. Mediatization adalah kata kuncinya. Saya belum menemukan padanan Bahasa Indonesia-nya apa, tapi kalau menurut tulisan itu:

“The mediatization of music is theorized as the emergence and transformation of institutions by synthesizing existing research and complementing it with additional theoretical considerations. The focus is on institutions that link production and consumption: concepts of musical works, roles of producers and performers, criteria and systems for the evaluation of music, and modes of performance and reproduction.”

Kita masih sulit keluar dari metode masa lalu. Kita sering merasa, memberi sedikit bumbu teknologi sudahlah cukup di zaman sekarang. Kita sibuk menyalahkan sistem, padahal barangkali, dibutuhkan gagasan dan imajinasi yang lebih dari ini untuk benar-benar bersikap adaptif. Seperti yang diungkapkan di atas, peran masing-masing pelaku sudah bertransformasi.

Mulailah berhenti menyalahkan venue musik yang sedikit, tidak terawat, atau birokrasinya yang bertele-tele. Mari mengerti bahwa kafe dan bar yang seringkali dijadikan venue juga butuh uang. Mari bangun dari mimpi akan datangnya seorang produser terkenal menyodorkan kontrak setelah melihat penampilanmu seperti tahun 90-an. Mari menyadari bahwa gaya bisnis masing-masing label juga sudah berubah. Mari bertindak lebih dari sekadar mendaftarkan lagu-lagu di kanal digital. Mari memekakan diri dengan kondisi zaman, menahan diri untuk tidak berusaha mengubah sistem jika itu sebenarnya bukan solusi yang relevan.

Ketika semua orang kini bisa membuat musik dan menyebarluaskannya, tuntutan untuk menjadi spesial di tengah derasnya informasi sejatinya lebih berat: musik harus dapat menghubungkan momen-momen manusia, menyuarakan sentimen mereka melalui cerita yang dimiliki. Maka, sebelum bicara lebih jauh tentang pengaplikasian teknologi, pekerjaan rumah pertama adalah menggali lebih dalam imajinasi kita, menemukan nilai apa yang benar-benar bisa berbicara kepada orang lain. Dari situ barulah kita berkhayal, kira-kira formula seperti apa yang cocok, bagaimana menyampaikan musik yang tepat ke orang yang tepat dengan cara atau medium yang tepat.

Anggaplah saya naif, tetapi saya masih percaya pada nilai-nilai personal yang tidak bisa digantikan oleh Artificial Intelligence. Saya percaya pada karya yang baik pasti menemukan pendengarnya. Saya juga percaya pada manusia dan kemajuan teknologi. Mungkin semua ini masih spekulasi, tetapi saya rasa, pola pikir kita sudah perlu mengarah ke situ. Yah, mudah-mudahan saja ini benar, karena kalau salah, ya selamat datang era Black Mirror!

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Dwi Lukita

Author Dwi Lukita

More posts by Dwi Lukita

Leave a Reply