Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

About The Author

Marine Ramdhani

Tidak hanya FFWD Records dan Lou Belle, Marine Ramdhani adalah senior yang sudah terlibat dalam pergerakan skena independen dengan jumlah tak terhitung. Sampai-sampai, beliau kerap dijuluki bapak walikota indie oleh banyak orang (maaf om, tapi Idhar juga setuju hehe). Di usianya yang tidak lagi muda, pribadi yang ramah ini masih terbuka menjelajahi ide-ide baru

Alamat Jl. Setiabudhi no. 56, dengan beragam kegiatan yang pernah terjadi di dalamnya, telah mewarnai kancah independen Bandung (dan Indonesia) selama lebih dari sepuluh tahun. Tidak hanya itu, sosok-sosok yang lahir dan tumbuh dari sana kerap kali berhasil merajut ‘simpul’ baru yang terus terkoneksi. Adalah Marine Ramdhani, figur di balik FFWD Records dan Lou Belle Shop yang konon merupakan penggeraknya. Kali ini, ia membagikan kesan personalnya setelah acara One Hour Set Vol. 2 with Rock N Roll Mafia, minggu lalu. – Dwi Lukita

Rasanya nama Rock N Roll Mafia tidak pernah lepas dari perjalanan karier musik saya di daratan industri musik independen. Dari mulai zaman britpop berjaya sampai dirilisnya album kedua mereka berjudul Outbox. Sebelum semua itu, pada era TRL Bar, sepertinya era britpop sempat menjadi landasan pacu bagi RNRM. Munculnya band-band dengan unsur elektronik macam Primal Scream dan Chemical Brothers kayaknya menjadi headline dalam setiap perbincangan tongkrongan mereka di jalan Sarijadi, Bandung, atau yang saya sering sebut barudak indies Gerlong kala itu. Mereka lalu menuju ke sebuah show di klub kecil daerah Leuwi Panjang. Dan diakhiri dengan dirilisnya sebuah album pertama mereka bertajuk Self Titled.

Masih teringat ketika bagaimana live PA itu dipertontonkan secara beramai-ramai. Ada sekitar 10 orang yang terlibat di RNRM kala itu, termasuk Aditya Wibisana, Indra Jenggot, dan Toma (Mocca). Sambil berkerut, mereka melihat penampilan RNRM di Sasana budaya Ganesha pada tahun 2002-an. Lalu kami menuju sebuah transformasi dirilisnya album Outbox, melalui FFWD Records, kemudian terlibat dalam acara launching-nya di AACC, juga keseharian mereka yang sering tampil di TRL Bar dan menyanyikan bersama lagu Zsa Zsa Zsu. Momen-momen itu tidak pernah terlupakan sampai sekarang.

Hingga akhirnya di era milenial ini, dalam sebuah acara bertajuk One Hour Set Vol. 2with Rock N Roll Mafia, masih saja terngiang ingatan-ingatan tersebut, terutama zaman TRL Bar di pertengahan 2005. Tentu tidak melupakan juga intensitas album Prodigal yang merupakan sebuah pendewasaan band elektronik ini. Untungnya, semua album mereka masih saya simpan. Satu album yang dirilis oleh Clothing UNKL 347 juga masih tersimpan baik dalam rak CD saya.

Acara bersama Rock N Roll Mafia Minggu lalu membuat saya tersenyum sampai di rumah. Selain lahirnya sebuah team baru sebagai organizer-nya juga, acara yang sudah saya rencanakan cukup lama dengan manajer mereka Lucky Sarwo, akhirnya menjadi kenyataan. Dengan mengangkat tema album pertama mereka, kami melihat RNRM dalam perspektif lain, sudut pandang lain. Akhirnya tak sabar juga menunggu EP terbaru mereka yang akan dirilis dalam waktu dekat. Mereka telah mengarungi indutri musik independen Indonesia cukup lama, berkelok-kelok di tengan ranah pop dan electronic, dan saya terus mengikutinya. Alhamdulilah saya mampu, mau, dan bisa mengadakan show mereka, tentunya bersama teman-teman dan manajemen mereka. Rasa syukur saya ucapkan atas semua ini. Terima kasih, mungkin hanya itu yang bisa saya ucapkan untuk semuanya. Hatur Nuhun pisan…

Belum berencana untuk berhenti, akhir minggu ini (14/4), akan diselenggarakan acara bertajuk The Dressing Room yang menampilkan unit elektronik ibu kota, Goodnight Electric. Jangan sampai kelewatan!

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Microgram Entertainment

Author Microgram Entertainment

More posts by Microgram Entertainment

Leave a Reply