Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

About The Author

Mayang Dianty

Lahir pada 9 Mei 1992, Mayang Dianty adalah CEO dari SkalaSound. Ia adalah penggemar musik sekaligus lulusan Master of Arts dengan peminatan Digital Media Culture & Education. Latar belakang tersebut yang membuatnya yakin untuk menciptakan digital hub bagi para pelaku musik.

Sebagai salah satu penggerak SkalaSound, sudah sewajarnya Mayang Dianty menyambut digitalisasi musik dengan sikap optimis. Tulisannya berikut menggambarkan konsep ekosistem musik ideal yang ingin ia tuju, dan bagaimana SkalaSound dirancang sebagai penghubung antar pelaku industri musik.

Masih teringat dalam benak ketika kita membeli kaset atau CD musisi favorit di toko musik terdekat. Perasaan tak sabar bergemulung, mendesak kita untuk segera pulang dan memutar kaset atau piringan itu di alat pemutar musik. Tahun berlalu, kita kemudian beralih dengan memindahkan lagu-lagu dari dalam CD ke perangkat lunak komputer seperti iTunes—mendatangkan pengalaman baru kepada kita sebagai penikmat musik. Pada akhirnya, sekarang kita tidak lagi wajib membeli rilisan fisik. Cukup mengambil gawai dan dalam beberapa klik, kita telah berlangganan music streaming services—sebut saja Spotify, Apple Music, JOOX, dan sebagainya. Gerbang era musik digital telah terbuka lebar dan kita tengah menyusuri keajaibannya.

Bentuk perubahan ke arah digital ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh penikmat musik, tetapi juga oleh para aktor yang terlibat dalam industri musik. Hal itu terbukti oleh survei dari Global Music Report pada tahun 2016. Menurut hasil survei tersebut, revenue terbesar datang dari streaming services atau musik secara digital. Indonesia pun tidak mendapat pengecualian terhadap perubahan ini. Mengutip laporan DailySocial, 85% responden menyatakan bahwa mereka mendengarkan musik lewat online streaming secara reguler dalam enam bulan terakhir. Ditambah pula, 52% responden mengutarakan bahwa mereka berlangganan layanan music streaming berbayar. Hal yang sama terjadi pada acara musik. Menurut Patrik Wikström dalam The Music Industry: Music in the Cloud, 2nd Edition, performansi atau aksi panggung adalah sumber utama pendapatan bagi musisi saat ini. Otomatis, kenaikan jumlah acara musik ikut terpengaruh.

Dampak perubahan digital kepada musisi tentu dapat kita lihat secara nyata. Perubahan digital membuat seorang musisi lebih mudah melakukan kolaborasi dengan musisi lain melalui dukungan dari media sosial. Agar industri musik terus berjalan, kolaborasi—dan tentunya semua karya musisi yang bersangkutan—harus mencapai telinga publik melalui distribusi. Sekali lagi, berkat era digital, distribusi musik juga dapat dilaksanakan dengan mudah—pilihan akses platform berbayar atau bahkan gratis bertebaran di depan kita.

Namun, perubahan ini juga mendatangkan tantangan tersendiri. Akses yang bersifat mudah dan terbuka ini membuat aktor dalam industri musik harus memikirkan strategi tersendiri agar dapat beradaptasi. Jika berhasil, mereka akan mempertahankan musik sebagai sebuah talent dan bisnis yang dapat terus berkembang.

Hal ini adalah landasan kami untuk berkomitmen dalam membentuk sebuah produk digital yang dapat mendukung aktor-aktor industri musik, khususnya musisi dan event creator. Kami percaya bahwa industri musik Indonesia membutuhkan ‘penguhubung’ atau hub agar musisi dan event creator dapat bertemu dengan mudah dan terstruktur. Kami percaya bahwa acara musik perlu dikembangkan untuk menjadi sebuah medium yang dapat mengembangkan talent serta bisnis di dalamnya. Di saat yang sama, kami membentuk strategi lain untuk digunakan pelaku industri musik, yaitu data insight.

Aktivitas seperti mendengarkan musik secara digital serta mendistribusikan musik melalui berbagai jenis platform dapat dimanfaatkan menjadi peluang. Data-data dari aktivitas tersebut diolah dan dikemas menjadi sebuah insight guna pengembangan talent dan bisnis musik di Indonesia. Peran data insight seperti ini sudah menjadi hal umum dalam industri lainnya, seperti pengembangan produk, distribusi, dan marketing. Melihat hal tersebut menciptakan progresivitas pada industri yang telah disebutkan, peluang ini juga dapat membuahkan hasil yang signifikan jika diaplikasikan ke dalam industri musik. Contoh kecilnya yaitu dalam pemilihan musisi untuk suatu acara serta pengembangan talent atau produk musik ke depannya.

Jika perubahan ini disertai dengan kesadaran dan keinginan dari masing-masing pelaku industri musik, tentu tantangan mengimplementasikan digital dan data insight terhadap industri musik akan menjadi sebuah jalan untuk beradaptasi dan terus berkembang di era digital ini. Sebuah industri musik akan selalu memijarkan sinarnya melalui koneksi yang tertata bagi kedua pemeran—musisi yang dapat terus berkarya dan event creator yang dapat terus mendistribusikan karya tersebut.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Microgram Entertainment

Author Microgram Entertainment

More posts by Microgram Entertainment

Leave a Reply