Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

About The Author

Gonzaga Sidharta

Selain menjadi pembetot bass di Alvin & I dan teman-teman sejawatnya, Gonzaga Sidharta, yang berlatar belakang ilmu pertanian, nampaknya sudah akrab dengan hal-hal ‘organik’. Keahlian tersebut dipertajam lewat selera humor, celetukan, dan suara-suara aneh khasnya. Tentang bagaimana Suaka, kedai kopi miliknya, perlahan mulai ‘membiasakan diri’ menjadi ruang kreatif kecil di Tangerang Selatan, akan diceritakan di bawah ini.

Bahwa titik nyaman yang selama ini dicari barangkali hanya eksis di istana pikiran masing-masing. Seperti perasaan nyaman yang mengantar diri saya pada pengakuan sepihak bahwa Bandung adalah rumah. Tetapi ternyata saya harus menjalani hubungan jarak jauh dengan Bandung beserta isinya. Hal itu yang akhirnya mengantar Suaka untuk berangsur-angsur muncul dan tumbuh, digotong perlahan-lahan dengan segala kemendadakannya. Hal itu juga yang menjadi dorongan untuk akhirnya menempatkan Suaka di kampung halaman saya, Tangerang Selatan, yang akhirnya makin terasa nyaman.

Suaka adalah sebuah warung kopi rumahan yang terselip di kompleks BSD Griya Loka Sektor 1.4, di halaman belakang rumah G1/14. Tumbuh sebagai manifestasi dari ide yang muncul sejak kuliah semester dua, tabungan dari pikiran setiap selesai menyeruput habis kopi saya dulu. Secara pribadi, Suaka dibangun berdasarkan harapan untuk menghadirkan secuil Bandung, walaupun akan selalu hareudang karena geografis Tangsel, namun diharap bisa menjadi tempat yang nyaman. Suaka akan selalu mengalami transformasi seperti Frieza, musuh dalam Dragon Ball Z yang sering berucap “This is not even my final form!” (sori-sori). Suaka juga seperti itu, muncul tidak langsung selesai dibangun, selalu pabalatak, dan masih jauh untuk mencapai bentuk final.

Suaka tidak akan bisa terwujud apabila tidak ada dukungan dari orang di sekitar saya. Terutama sahabat saya, Hendri Siman Santosa yang bersedia meluangkan halaman belakang rumahnya untuk ditata menjadi Suaka, bertanggung jawab dengan urusan visual dari Suaka, serta bersedia membangunkan saya tiap pagi hari. Hendri sudah saya kenal dari SMP, sejak dulu kami selalu hobi merancang banyak sekali wacana. Akhirnya wacana yang terwujud selain Suaka adalah Wacaan, sebuah zine ugal-ugalan dari Suaka, yang merangkul warga Suaka untuk menghasilkan sesuatu.

Dukungan juga datang dari kakak saya, Metta Asriniarti yang berperan besar dalam menyusun konsep serta haluan Suaka. Sedikit buku atau pustaka yang ada di Suaka adalah 90 persen milik Metta, yang akhirnya memperbolehkan sebagian bukunya untuk ditangkarkan di Suaka. Selain itu ada Alvin Baskoro, sahabat saya yang sangat suka minum kopi susu vietnam, yang selalu bawel kalau kopinya enak tapi tidak boleh diminta. Alvin pernah datang ke Suaka, kebetulan pada saat ada acara “Bakar” (Baca karya). Bakar adalah acara open mic pembacaan tulisan seperti puisi/cerpen, musikalisasi puisi, stand up comedy, pengkajian manga, hingga presentasi karya lukisan. Pada kesempatan kemarin Alvin juga turut menyumbang beberapa lagu projek personalnya. Hal itu saya tangkap sebagai sebuah pesan dan dukungan untuk mewujudkan harapan : Suaka menjadi vessel atau wadah kreativitas terutama di BSD atau Tangsel, dengan kopi sebagai katalis reaksi atau sebagai pelumasnya.

Jika mengingat-ingat kembali, Alvin dan juga tujuh rekan lainnya di Alvin & I adalah orang-orang yang selalu saya cekoki dengan kopi. Setiap ada kesempatan santai, saya menyiapkan hand grinder, dripper, dan kopi di tas, kemudian saya menawarkan diri untuk membuatkan kopi (atau mungkin memaksa mereka ngopi). Seperti pada kesempatan setiap sleep over sebelum perform, biasanya kami berkumpul di rumah Ijal atau Rafdhi. Kopi menjadi perayaan bersama, dari menggiling bergantian hingga diskusi soal rasa. Saya sangat teringat ketika rekaman EP Bersuara, sambil menunggu, kami membahas hal-hal absurd seperti video aneh-aneh dari Kuya, barter meme, dan tentu saja saya mencekoki mereka dengan kopi manual brew. Proses menyeduh sesuka hati itu mungkin yang mengkonstruksi rasa puas saya saat membuatkan kopi untuk orang lain. Sampai pada klimaksnya mungkin saat Alvin & I naik gunung Papandayan bersama KAPPA Fikom Unpad untuk membuat video klip Sastra Hutan. Dengan segala keterbatasan, dari jumlah air terbatas, cara memasak air yang cukup rumit, bau apek sepatu basah serta bau belerang, tetapi pengalaman itu terasa membebaskan. Semua ritual dan tatacara manual brew yang biasanya saya taati terasa buram, bahwa mungkin Papandayan juga sedang ikut berkumpul menghirup wangi kopi saat digiling atau saat diseduh dengan V60 sekadarnya. Mungkin terkesan remeh atau berlebihan, tapi bagi saya itu merupakan hal yang monumental, cukup menjadi candu juga.

Suaka yang baru mulai beroperasi sejak Oktober 2017 selalu berharap untuk bisa tumbuh dengan sekadarnya, tidak berlebihan tidak kurang. Sesuai kadar. Kami ingin menyeduh kopi di halaman belakang rumah ini seperti menyeduh di Papandayan dengan sederhana. Harapan kami semoga Suaka bisa juga memberikan pengalaman yang berkesan dan rasa nyaman yang sederhana. Diiringi juga dengan semangat berproses kreatif dan apresiasi tanpa menghakimi. Lalu, siapa tahu geng Microgram juga bisa mampir di Tangsel, mampir di Suaka membawa segala kegilaan dan keintiman barudak Jalaprang. Hayu lah.

O ya, sebelum Suaka kembali beberes ini-itu, perkenankan kami memanjatkan doa ;
“Agar kemenjadianmu utuh, lalu menjangkiti kanan kiri.” Amin.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Microgram Entertainment

Author Microgram Entertainment

More posts by Microgram Entertainment

Leave a Reply