Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Sebagai kelahiran ‘91 dengan mayoritas anggota keluarga berasal dari Bandung (dan Jawa Barat), masa kecil saya seringkali diselipi kalimat berikut: “Bandung itu gudangnya musisi hebat!”. Namun, saya dulu bukanlah orang yang suka memerhatikan asal geografis dari musisi. Sehingga baru di awal masa kuliah lah saya menyadari betapa ‘kuatnya’ pernyataan tersebut.

Saya lalu bertanya-tanya. Faktor apa yang membuat Bandung bisa dianggap demikian? Lebih dalam lagi, memangnya seperti apa identitas atau ciri khas konkrit dari ‘musik Bandung’ yang konon digaungkan banyak orang?

Hingga kemudian saya mengetahui akan diselenggarakannya acara bertajuk Preanger Festival. Sesuai namanya, gelaran ini menghadirkan lebih dari 40 musisi Parahyangan lintas generasi ke sebuah acara yang berlangsung selama dua hari. Saat melihat nama-nama penampil, beberapa terdengar fresh, lalu ada pula yang membuat saya merasa “Wah, ini band-band soundtack masa remaja!” Dari golongan Bimbo, The Groove, PAS Band, Burgerkill, Koil, Mocca, The SIGIT dan HMGNC, hingga nama-nama yang patut mendapat perhatian seperti Garhana, Ikkubaru, Loner Lunar, serta The Schuberts. Tentu saja, keempat band Microgram Entertainment pun perlu Anda simak. Saya tidak mau melewatkan kesempatan promosi di sini, hehe.

Saya lalu teringat omongan beberapa orang yang sempat menyatakan “Bandung itu kota folk!” atau “Bandung itu kota post-rock!” Nyatanya, dalam konteks budaya pop sekarang, logika menyematkan satu genre musik sebagai identitas Bandung (mungkin seperti Nirvana dari kota Seattle yang lalu membentuk istilah Seattle Sound) menjadi tidak valid. Dari nama-nama yang saya sebutkan di atas saja, sudah terdapat musik jazz, metal, Swedish-pop, hingga Japanese city-pop.

Rasanya memang sulit menemukan benang merah yang dapat merepresentasikan karakter musik suatu kota. Terlebih ketika digitalisasi sudah menyeruak, menembus batas geografis sembari memberikan akses referensi yang lebih demokratis bagi semua orang. Saya bahkan tidak tahu apakah klasifikasi ‘musik Bandung’ itu masih ada, penting, dan relevan.

Tetapi Preanger Festival hadir bagai sebuah monumen. Sebuah sikap pernyataan bahwa ketika sekat budaya kian tergerus oleh personalisasi informasi (istilah apa ini, maaf), acara ini justru mengumpulkan musisi-musisi dengan beragam identitas untuk seolah berkata: “Kami dari Parahyangan, dan kami akan jalan terus.” Kala sepakbola Bandung sedang diguncang oleh kelakuan Bobotoh biadab, misalnya, musik tetap jalan terus. Atau ketika perjuangan menemukan novelty di era copy-paste ini terasa melelahkan, musik pun tetap jalan terus. Mempersatukan. Memperjuangkan.

Barangkali inilah wujud komunalitas khas Bandung yang membuatnya tetap dinamis. Seperti yang ditulis oleh Idhar Resmadi, kehadiran Preanger Festival diharapkan menjadi turnover penting untuk perkembangan kreativitas musik Bandung. Mungkin pula, inilah alasan citra Bandung sebagai ‘barometer’ musik lokal masih terjaga sampai sekarang dan bukan semata-mata karena satu genre musik saja.

Saya tidak tahu apakah kedepannya akan lebih banyak upaya serupa bermunculan, atau apakah sikap komunalitas tersebut masih dapat bertahan di tengah manusia yang semakin individualistis. Namun, Preanger Fest ini patut kita rayakan sebagai potret zaman. Cerna musiknya, hirup suasananya, dan bagikan pengalaman yang didapat setelah digempur puluhan band lokal Bandung. Karena musik seyogianya tidak hanya sekadar pertunjukkan, selalu ada semangat di baliknya yang patut kita bicarakan.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Dwi Lukita

Author Dwi Lukita

More posts by Dwi Lukita

Leave a Reply